Obrolan Santai

Situs Tak Resmi Totok Suhardiyanto

My Photo
Name:
Location: Jakarta, Indonesia

I am an open-minded person who want to meet more good friends

Wednesday, February 21, 2007

The long and winding road

Hari ini, sungguh saya dihadapkan lagi kepada ujian dari Allah Swt. Barangkali Tuhan belum yakin apakah saya adalah jenis manusia tahan banting atau bukan sehingga ujian pun bertubi-tubi. Setelah rumah ibu saya hancur karena banjir, saya pun gagal kembali meraih kesempatan untuk masuk ke program yang saya idam-idamkan sejak 7 tahun silam. Berkali-kali saya mengirim lamaran, berkali-kali itu pula saya harus menerima sebuah surat yang dihiasi kalimat, "I apologized for not being able to bla bla bla." Semuanya berarti satu: saya gagal.

Namun, saya kenal betul watak saya yang tidak pernah mau menyerah. Akankah saya akan kembali bangkit? Jalan mana yang akan saya tempuh? Rasanya saya sudah lelah, namun perjalanan kelihatannya masih belum usai.

Tuesday, February 13, 2007

Stigmatisasi Musibah

Saya baru tersadar setelah membaca kolom berjudul Angin Goreng Sutiyoso 1 & 2 yang ditulis oleh Eddie Santosa di dalam Detik. Saya baru tersadar betapa kita selalu membiarkan kita dizalimi oleh para elite penguasa Jakarta. Ya, bagaimana kita tidak membiarkan penzaliman itu jika kita selalu menerima kenyataan bahwa banjir itu adalah "musibah"; dan musibah dalam kosmologis nenek moyang kita adalah sesuatu yang tak dapat ditolak. Coba saja, banyak orang yang dalam upaya menghibur selalu mengatakan, "Sudahlah namanya saja musibah. Ini cobaan dari Tuhan. Kita harus menerimanya dengan lapang dada."

Dengan distigmatisasi menggunakan istilah musibah, banjir di Jakarta akan selalu kita terima dengan lapang dada seperti bencana gempa bumi, misalnya. Padahal, ada hal yang berbeda antara bencana gempa bumi dan banjir di Jakarta kali ini. Gempa bumi adalah sebuah peristiwa geologis yang sampai saat ini masih sulit diprediksikan meskipun tetap bisa diantisipasi sih dengan penguasaan teknologi antigempa. Jadi, kalaupun gempa terjadi, kita masih bisa menerimanya masuk ke dalam ranah musibah. Sementara itu, banjir di Jakarta jelas-jelas nyata penyebab non-alamnya: berkurangnya daerah resapan air karena pembangunan jor-joran properti yang tidak mengindahkan keseimbangan alam. Jadi, pasti ada yang harus bertanggung jawab. Nah, apakah kita tetap setuju bahwa banjir Jakarta 2007 disebut musibah dan menerimanya dengan lapang dada, sementara pihak yang seharusnya bertanggung jawab kita biarkan saja meneruskan tindakannya yang merusak keseimbangan alam di Jakarta dan sekitarnya? Mari kita renungkan kembali, Saudaraku.

Monday, February 05, 2007

Pindahkan Ibukota Sekarang Juga!

Kelihatannya judul posting saya kali ini rada bombastis, namun ada yang perlu dicermati saya kira. Maksud saya, kata "sekarang" pada judul di atas dimaksudkan untuk memberi tekanan kepada pemerintah bahwa pemikiran atau wacana pemindahan ibukota perlu dipertimbangkan sekarang juga.

Wacana pemindahan ibukota sebenarnya sudah saya dengar dari teman-teman di milis yang saya ikuti sekitar dua atau tiga tahun silam, bahkan sejak zaman dinasti Soeharto sudah cukup santer isu untuk memindahkan ibukota ke Jonggol. Namun, sekarang, setelah banjir di Jakarta mencapai puncaknya, orang-orang mulai memikirkan solusi untuk mengurai masalah banjir di Jakarta yang antara lain adalah dengan memindahkan ibukota dari Jakarta.

Adalah Danny Setiawan, Gubernur Jawa Barat, yang termasuk salah satu di antara mereka yang mengangkat isu ini kembali. Mengapa ide pemindahan ibukota dari Jakarta mengemuka? Masalahnya antara lain bersumber pada terlalu beratnya beban Jakarta sebagai kota metropolitan sementara daya dukung wilayahnya sangat terbatas, sementara ibarat bunga, Jakarta menarik semua kumbang dari segala penjuru tanah air untuk datang. Jakarta memang salah satu kota dengan pelbagai fungsi, misalnya, pusat administratif, pusat perdagangan, pusat jasa dan lain-lain. Jadi, ada yang mengusulkan agar fungsi yang diemban oleh kota Jakarta dialihkan ke wilayah lain sehingga secara alamiah perkembangan dan kemajuan pun akan merambah ke wilayah yang lain.

Apakah hal itu mungkin? Mungkin saja saya kira karena di dunia ini cukup banyak contoh negara yang memisahkan pusat administrasi pemerintahan dan pusat pergerakan ekonomi, misalnya Australia dan Amerika Serikat, bahkan Afrika Selatan mempunyai tiga ibukota negara yang mempunyai fungsi berbeda-beda. Dua tahun silam pun Presiden Korsel, Roh Moo-Hyun, mengusulkan memindahkan ibukota Korea Selatan dari Seoul untuk mengurangi beban kota Seoul. Dalam sejarah Indonesia pun, ibukota Indonesia pernah berada di Yogyakarta dan Bukittinggi.

Jika sekarang memang ibukota akan dipindahkan dari Jakarta, kira-kira tempat mana yang paling cocok? Ada beberapa hal yang menurut saya harus dipikirkan, misalnya kesiapan lahan, lokasi, dan dana yang tersedia. Kesiapan lahan menyangkut faktor apakah memang ada atau masih ada lahan yang cukup luas untuk membuka sebuah ibukota baru? Juga apakah mungkin wilayah itu dikembangkan sebagai ibukota baru? Untuk soal lokasi, saya kira kemudahan akses ke dan dari tempat itu menjadi faktor penting. Juga secara topografis apakah kontur tanahnya cocok, misalnya tidak berbukit-bukit, tidak rawan banjir dan bukan terletak di daerah sesar? Kemudian yang terakhir, kita perlu juga melihat apakah kocek pemerintah cukup untuk membiayai pengembangan ibukota baru karena permasalahan Indonesia begitu banyak sehingga yang menjadi prioritas pun banyak.

Sekarang yang penting juga adalah apakah ibukota perlu di Jawa atau luar Jawa? Jika berpikir untuk pengembangan negara Indonesia ke depan, tentu saja saya mengusulkan agar ibukota Indonesia dipindahkan saja dari Jawa yang sudah sangat sarat penduduk ini. Namun, jika melihat faktor kesiapan sehingga tidak perlu mengeluarkan dana terlalu besar, saya kira Jawa tetap menjadi pilihan terbaik karena infrastrukturnya yang lebih baik. Jika luar Jawa, saya mengusulkan kota Banjarmasin atau wilayah di dekatnya sebagai Ibukota Indonesia yang baru karena terletak pada posisi di tengah-tengah kepulauan Indonesia dan berada di sebuah teluk. Wilayahnya pun masih sangat luas dan flat sehingga cukup mudah dikembangkan. Jika lokasinya di Pulau Jawa, saya mengusulkan Majalengka sebagai Ibukota Indonesia. Pertama, lokasinya cukup strategis karena dekat kota pelabuhan Cirebon. Kedua, wilayahnya pun masih mungkin dikembangkan daripada, misalnya, kota Bogor yang sudah sumpek dengan jalan-jalan sempit dan kepadatan lalu lintas. Nah, bagaimana usul Anda?

Saturday, February 03, 2007

Air itu pun datang kembali

Tidak ada yang menyangkal bahwa semua orang membutuhkan air karena air adalah kebutuhan dasar untuk bisa bertahan hidup. Namun, jika jumlahnya melimpah, air justru membuat kita tidak mampu bertahan hidup. Seperti apa itu? Ya seperti air bah alias banjir seperti yang sekarang ini melanda kota Jakarta, ibukota negara Indonesia.

Ketika posting ini saya tulis, air tengah merambat naik di beberapa kawasan Jakarta. Pelan-pelan tetapi pasti, beberapa rumah mulai tenggelam. Beberapa di antaranya malah hanyut terbawa arus deras. Saya pernah merasakan bagaimana hidup bertahan di tengah banjir karena saya tinggal di daerah yang relatif dekat dengan sungai. Pemda DKI Jakarta sejak awal saya mengalami banjir lima tahunan pada tahun 1986 sampai dengan 2006, hampir dua puluh tahun, tidak pernah berubah pandangan dalam melihat banjir. Tetap menganggapnya tamu tahunan atau lima tahunan. Sesuatu yang ritual selalu dinanti-nantikan, bukan sebagai sebuah rangkaian masalah yang perlu diuraikan aga tidak terjadi kembali. Jadi, sudah saatnya kita memiliki Pemda yang lebih peduli dan visioner. Kini saatnya saya kira karena pada tahun ini ada Pilkada DKI Jakarta. Mari kita pilih Gubernur DKI Jakarta yang bisa menyodorkan solusi agar air bah ini tidak kembali datang pada tahun 2012.