Once upon a time in Jakarta: Jatinegara
Semua orang tentu punya kenangan tertentu terhadap kota tempat tinggalnya. Begitu juga dengan saya. Jakarta menjadi salah satu dari beberapa kota yang menorehkan sepenggal kisah bagi saya. Ya, di kota inilah saya tumbuh dari usia anak-anak, remaja, sampai akhirnya dewasa. Di kota ini pula saya mempunyai kenangan manis tentang masa-masa remaja, cinta monyet, dan masa-masa pancaroba menjelang dewasa sampai akhirnya mendapatkan jodoh. Saya akan kisahkan secara bersambung di bawah cerita berjudul "Once upon a time in Jakarta".
Nyaris seluruh usia remaja saya habiskan di wilayah Jakarta Timur. Meskipun ketika saya berumur 13 tahun saya pindah ke Kelapa Gading, Jakarta Utara, kegiatan sekolah saya tetap berada di wilayah kota ini. Jadi, bagi saya Jakarta Timur menjadi bagian yang tidak lepas dari sejarah hidup saya. Di tempat ini pulalah saya menemukan pelabuhan hati saya.
Sebagai orang yang tinggal di Jakarta Timur, menjelajahi kota Jatinegara tentu saja bukanlah hal asing bagi saya. Jatinegara yang dulu bernama Mesteer Cornelis ini sebelumnya merupakan lokasi bagi kantor walikota. Jadi, saya otomatis menganggap bahwa Jatinegara menjadi semacam ibukota bagi Jakarta Timur, meskipun konsep "ibukota" untuk wilayah seluas kotamadya sebenarnya agak sulit diterapkan. Oleh karena itu, saya sering menggunakan indikator lokasi kantor walikota atau bupati.
Dahulu saya mengenal Jatinegara sebagai tempat tujuan belanja para kawula Jakarta Timur. Ya, tahun 1980-an belum ada mal besar, ITC, town-square, atau junction tersebar di seluruh wilayah Jakarta seperti sekarang ini. Jadi, hampir dipastikan orang-orang seperti saya dan keluarga yang tinggal di perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi akan pergi ke Jatinegara untuk berbelanja apa saja. Mulai dari sepeda, baju, sepatu, sampai buku-buku. Hampir semua orang yang tinggal di Kecamatan Jatinegara kala itu--yang wilayahnya amat luas meliputi beberapa kecamatan saat ini--pasti kenal dengan nama toko-toko seperti toko sepatu Well-Well atau Dod-Well, toko buku Sekawan atau toko buku Prapatan, kemudian toko seragam sekolah, pramuka, atau alat perlengkapan shalat Bulan Bintang di dekat Pasar Jatinegara. Bagi kami, berjalan-jalan di sekitar pertokoan PJKA di dekat Stasiun Jatinegara sudah merupakan rekreasi tersendiri kala itu.
Bagi mereka yang kurang mampu, sekitar lapangan Jenderal Oeriep Sumohardjo--sekarang di depan Hotel Alia Matraman--menjadi tumpuan karena di tempat itu banyak dijual barang loakan. Mulai dari sepatu, sandal, dan lain-lain. Di sekitar depan Pasar Jatinegara, sejak awal 1980-an memang juga sudah banyak pedagang kaki lima dengan logat Minangnya. Ya, mungkin orang-orang dari wilayah sana memang ulet dalam bekerja. Biasanya di sana dijual kaos seribu tiga atau Rp1000 untuk tiga kaos. Kala itu, kurs 1 dollar adalah sekitar 500 rupiah. Jadi, Rp1000 kala itu nyaris setara dengan Rp20.000 waktu sekarang.
Suasana sekitar Pasar Jatinegara memang tidak banyak berubah hingga sekarang, malah tambah ruwet. Terutama lalu lintas. Jika dahulu hanya ada beberapa puluh oplet berseliweran, kini ratusan bahkan ribuan mikrolet mulai dari seri MO1--misalnya M01, M01A, M01B--sampai M36 semuanya lewat depan pasar Jatinegara. Belum lagi akan ditambah busway dalam waktu tidak lama lagi. Bisa dibayangkan bagaimana ruwet situasi sepotong jalan yang melintasi depan Pasar Jatinegara itu?
Sekitar tahun 1980-an, masih banyak ditemukan omprengan atau mobil pick up dengan tutup terpal dan bangku seadanya yang memanjang di tiap sisi bak. Omprengan semacam itu melayani trayek Jatinegara-Pulo Gadung meskipun trayek itu pun dilayani oleh Mayasari Bhakti rute 56. Banyak di antara omprengan itu yang juga berplat hitam. Salah satunya adalah milik teman saya. Sebagai sambilan mencari uang tambahan sekolah, teman saya sering menyupiri omprengan milik ayahnya, seorang bintara TNI-AD yang tinggal di kompleks bengkel milik TNI-AD di Kebon Pala, belakang bioskop Nusantara. Saya pernah menjadi keneknya untuk beberapa rit. Namun, sekitar penghujung 1980-an atau awal tahun 1990-an, omprengan hilang dan digantikan oleh mikrolet M27.
Ketika mendiang ayah saya masih ada, kami sering sekali makan masakan Cina di dekat lapangan Jenderal Oeriep. Kira-kira terletak setelah Jembatan KA Matraman dan sebelum Gereja Koinonia. Mungkin lokasi tepatnya adalah di ujung jalan komplek perwira TNI-AD Jenderal Oeriep. Saya cukup menggemari masakan di sana, terutama masakan ayamnya seperti ayam kecap, ayam nanking, atau ayam kuluyuk. Rasanya ... yummy. Sayangnya, sejak ayah meninggal, kami tidak pernah lagi ke sana, dan sekarang tidak tahu apakah masih ada atau tidak restoran sederhana, tapi enak itu.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home